Merupakan semangat berbagi motivasi Sri Lestari, salah satu staff UCPRUK, seorang paraplegi, dan figur difabel mandiri. Perjalanan yang memicu aktivitas advokasi hak difabel di berbagai pelosok Indonesia. Ia telah menyampaikan misinya pada masyarakat dan pemerintah di sepanjang Jakarta – Bali dan Aceh – Jakarta. Dengan menggunakan kursi roda adaptif dan motor modifikasinya, Sri membuktikan betapa besar pengaruh akses, hak, dan kesempatan dalam diri tiap difabel.

Perjalanan untuk Perubahan memilih tanah Sulawesi sebagai destinasi misi pada tahun 2015. Sri Lestari melakukan perjalan sejauh lebih dari 2.000 km dari Manado di Sulawesi Utara hingga Makassar di Sulawesi Selatan. Misi perjalanan kali ini pun membawa pesan adanya peran pemerintah daerah DI Yogyakarta dalam usaha pemenuhan hak – hak difabel. Sehingga Sri pun mampu menanyakan pada pemerintah daerah yang ia kunjungi: “Bagaimana dengan daerah Anda?”

Seperti daerah lain di luar Jawa, umumnya difabel di Sulawesi pun masih terlalu disayang oleh keluarga. Jejaring antar-OPD pun masih lemah sehingga dukungan bagi difabel masih minim. Oleh karena itu, isu disabilitas pun masih dipandang sebatas pemberian bantuan, penyakit, atau beban keluarga. Masyarakat belum sadar bahwa difabel memiliki hak – hak yang setara dengan non-difabel.

Sri berhasil bertemu dan berdiskusi dengan Pemerintah Kota Manado, Sulawesi Utara: Pemerintah Provinsi Gorontalo; dan Pemerintah Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Selain itu, Sri juga turut bertemu dengan pemerintah di tingkat kabupaten bahkan kecamatan yang sejalan dengan rute perjalanan.

Selain berdiskusi dengan pemerintah, Sri juga bertemu dan mengadakan beberapa workshop dengan beberapa OPD di Palu dan Poso, Sulawesi Tengah. Diskusi menarik terjadi ketika Sri berkunjung ke Sekolah Perempuan Dodoha Mosintuwu yang digawangi oleh salah satu aktivis perempuan Poso, Lian Gogali. Lian, yang juga difabel, menyimpulkan diskusi hari itu dengan:

“Apakah difabel dipandang sebagai beban bagi non-difabel? Seringkali orang tua menganggap anak difabel sebagai dosa atau karma yang turun – temurun. Persepsi seperti ini menyebabkan keluarga – keluarga yang salah satu anggotanya difabel, malah memarginalisasi difabel itu sendiri. Persepsi seperti ini melumpuhkan harapan dan usaha keluarga untuk mengembangkan potensi difabel tersebut.”

Setiap harinya Sri bertemu dan berbincang dengan kurang-lebih 25 orang. Sehingga dari 20 hari perjalanan, Sri telah membagikan fakta-fakta mengenai difabel melalui figurnya pada 500-an orang. Perjalanan ini pun cukup menarik perhatian media lokal bahkan nasional. Media massa mulai memahami isu-isu disabilitas dan diharapkan dapat meningkatkan intensitas isu ini pada khalayak media.

Melalui perjalan ini, UCPRUK ingin mengirimkan misi bahwa siapa yang paling mengetahui isu dan kebutuhan difabel selain difabel itu sendiri? Oleh karena itu, peran dan keterlibatan mereka menjadi hal yang sangat penting dalam setiap program atau kegiatan. Sri, contohnya, akan memberikan perspektif yang sesuai dengan kebutuhan difabel, karena ia merasakannya. Sehingga Sri dan difabel lainnya menjadi bagian penting dalam program.